Selasa, 25 Mei 2010

HARUS PUNYA CIRI KHUSUS
Membentuk bonsai memang memerlukan satu ketelitian dan juga kreativitas seni yang cukup tinggi. Disitu kesulitannya tentu menjaga agar tanaman tetap tumbuh di lingkungan yang kecil dan menjadikan satu bentuk seni pohon yang harus berkesan besar. Namun eksplorasi bentuk bonsai harus lebih dari sekedar miniatur pohon dan harus berani menciptakan gaya yang unik dan fenomenal.
Bonsai memang tidak bisa dipisahkan dengan nilai seni dan itu yang membuat tanaman kerdil ini punya kelas tersendiri dan juga penggemar fanatik. Dari pengembangan bonsai ada dua bagian yang terpisah yaitu pertama adalah keanekaragaman jenis tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman bonsai. Syaratnya tentu tanaman keras yang banyak tersebar di Indonesia.

Sementar pengembangan kedua adalah dari konsep seni yang dituangkan dalam karya seni bonsai. Disitu akan mencakup bentuk tanaman secara keseluruhan dilihat dari gaya gerakan dan konsep yang diambil. Dari hasil jadi bisa terlihat tingkatan kreatifitas dari pemilik termasuk juga gaya bonsai dan keberanian dalam melakukan eksplorasi gerakan baru.

Keberanian seorang pebonsai untuk menciptakan satu gaya dan bentuk yang unik secara langsung akan meningkatkan kreatifitas. Sebab dengan gaya baru akan muncul satu bentuk baru yang tidak sama atau merupakan pengembangan dari bentuk sebelumnya. Apalagi bila dari kerasi gerakan baru yang dimiliki ternyata mendapatkan respon yang positif dari komunitas tanaman kerdil ini.

Kerinduan akan munculnya gaya baru yang fenomenal dilontarkan oleh pebonsai kawakan asal Surabaya, Sulistyanto Soejoso. Menurutnya saat ini gaya bonsai yang ada masih cenderung mengecilkan tanaman atau dengan sebutan miniatur. Padahal bonsai punya arti lebih luas dari itu.

“Arti bonsai sendiri memang minatur dari tanaman tua namun harus dengan bentuk yang unik dan bisa dinikmati dari dekat,” ungkap pria yang akrab di panggil Sulis. Disitu ada banyak kesalah persepsi yang akhirnya akan menghentikan proses kreatifitas pebonsai. Salah satunya dengan terus membakukan satu gaya dan bentuk membuat bonsai.

Jebakan Gaya Formal dan Non Formal

Kedua gaya ini paling populer dimana bentuk untuk gaya formal seperti pohon beringin dimana bentuk kepala segitiga dengan rimbunnnya daun dan batang yang lurus. Sementara untuk gaya non formal masih mengambil bentuk kepala segitiga namun batang yang muncul punya gerakan meliuk. Tapi bila diambil garus lurus antara kepala dan akar tetap sejajar.

Disini memang gaya formal dan non formal paling mudah untuk di pahami dan dicerna oleh semua kalangan. Dari gaya ini akhirnya banyak pebonsai yang memilih untuk menggunakan gaya ini karena memang punya daya serap pasar cukup besar. Selain itu proses pembuatannya cukup mudah dan bisa menghemat waktu.

Tapi disitu akhirnya tentu proses kreatifitas kurang berkembang dan kondisi ini yang cukup mengkhawatirkan. “Seharusnya proses seni itu berani menciptakan hal baru dan unik,” tambah Sulis. Sebab bagaimanapun unsur seni tetap akan memegang peranan paling besar dalam pembuatan bonsai.

Akhirnya pebonsai jangan sampai terjebak dengan beberapa gaya saja sebab bila gaya yang dikeluarkan tetap tentu akan terjadi kebosanan pasar. Akibatnya tentu dari segi penjualan akan berkurang sebab pasar akan turun. Dalam jangka panjang akan membuat kreatifitas penghobi bonsai berkurang.

Kembangkan Kreatifitas

Dari bentuk segitiga yang banyak diambil sebenarnya masih banyak bentuk yang bisa di ekplorasi. Salah satunya dengan mengambil bentuk kepala datar yang banyak dijumpai pada pohon tua di wilayah Afrika. Disitu tentu bentuk yang baru akan menarik minat orang untuk menikmatinya lebih lama. “Sekarang banyak yang takut melakukan gaya unik karena khawatir saat kontes kurang mendapatkan apresiasi,” imbuh Sulis.

Padahal baik dari unsur seni maupun bisnis bentuk yang baru akan menarik perhatian terutama yang unik dan berbeda. Apalagi bila bentuk kemasan yang diambil seperti pot dan dimensi yang dimiliki sempurna. Maka harga jual tinggi bukan lagi masalah.

Jangan Ditutup Daun

Sebagai tanaman kerdil bonsai harus bia dinikmati dalam bentuk kecil namun tetap memberikan kesan yang luas. Menurut Sulis ada beberapa hal baku yang salah kaprah tentang proses daun. Disitu pada bagian akhir terlihat bahwa daun yang rimbun akan menutupi gerakan bonsai.

Kondisi ini tentu disayangkan sebab dari pakem bonsai sendiri tidak ada yang mengharuskan daun harus rimbun begitu juga dalam draft penjurian. Sebagai contoh bonsai gaya formal akan membentuk kepala segitiga banyak yang di penuhi oleh daun.

Tapi bila diperhatikan lebih detail maka daun akan menutupi gerakan dari cabang dan rating di dalamnya. Akibatnya keindahan dari gerakan ranting tidak terlihat. “Jadi percuma kita melakukan pengkawatan kalo hasilnya tidak terlihat,” imbuh Sulis. Padahal secara teknis tidak ada aturan yang mengikat.

Sehingga seni bonsai sendiri memang sangat erat dengan gerakan batang dan itu yang menjadi keunggulannya. Sehingga proses daun diharapkan tidak terlalu rimbun karena bisa menutupi gerakan didalamnya.

Seperti halnya pohon besar bila kita melihatnya dari dekat maka akan terlihat jelas karakter dari cabang dan ranting. Daun juga jangan sampai menghalangi pemandangan dibelakangnya. Sebab di pohon besar dan tua latar belakang langit masih bisa kita lihat dan itu berlaku juga pada bonsai.

Bakalan Dari Kawasan Pantai Lebih Baik

Untuk mendapatkan gerakan yang unik dan baru memang mau tidak mau harus mendapatkan bakalan yang bagus dan berkualitas. Disini akan banyak sekali bakalan yang bisa dipilih mulai dari bentuk hingga jenis tanaman. Namun ada beberapa cara yang bisa dipilih untuk mendpatkan bakalan unik.

Cari bakalan yang berada di tempat ekstrem dan mendapatkan asupan nutrisi yang terbatas. Contonya di wilayah bebatuan dan karang-karang di tepi pantai. Sebab dengan kadar nutrisi yang sedikit akan memicu gerakan ekstrem. Dengan gerakan yang unik maka pengembangan bentuk akan jauh lebih mudah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar